Rabu, 13 November 2013

MMR




Metode Maternal Reflektif

A.    Pengertian Metode Maternal Reflektif
Materna : ibu
Reflektif : memantulkan/ meninjau kembali pengalaman bahasa anak tunarungu
Metode maternal reflektif adalah metode pengajaran bahasa diangkat dari upaya seorang ibu untuk mengajarkan bahasa pada anaknya yang belum berbahasa sampai anak dapat menguasai bahasa, yang dilakukan seorang ibu dengan kemampuannya merefleksikan kemampuan berbahasa.

Secara garis besar  MMR adalah :
1)      Pengakuan terhadap hak kaum tunarungu untuk mendapat komtal sepenuhnya dengan sesama manusia sehingga memperoleh pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia.
2)      Pengakuan terhadap hak kaum tunarungu agar dapat melakukan komunikasi dengan sesama manusia melalui cara mereka yang khas
3)      Mencakup penggunan berbagai cara komunikasi yang dipilih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan perorangan
4)      Suatu falsafah mengenai komunikasi dan bukan suatu metode pengajaran

B.     Komponen-komponen Metode Maternal Reflektif
Menurut Maria Susila Yuwati (2000: 12) komponen metode maternal reflektif adalah :
1)      Wicara
Semua anak tunarungu harus diberi kemungkinan untuk mengembangkan bicaranya. Dalam penerapan komtal guru/ orang tua sebanyak mungkin berkomunikasi dengan berbicara kepada anaknya dan diberi latihan bicara secara intensif.
2)      Membaca ujaran
Kemampuan membaca ujaran harus sedini mungkin dikembangkan pada anak, antara lain dengan selalu berkomunikasi melalui bicara maupun isyarat secara simultan.
3)      Membaca dan menulis
Membaca dan menulis memegang peran penting dalam berkomunikasi bagi anak tunarungu. Sejak kecil anak diberi lambang tulisan, missalnya dalam kombinasi gambar atau situasi yang dialami.
4)      Sistem isyarat bahasa Indonesia
Sistem isyarat Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi gerakan-gerakan tangan yang disusun secara sistematis dan berfungsi mewakili bahasa Indonesia, berdasarkan kosa kata dasar Bahasa Indonesia yang berlaku pada saat ini.
5)      Sistem ejaan jari
Ejaan jari Indonesia dibentuk dengan tangan atau posisi jari tertentu untuk menggambarkan huruf-huruf abjad, tanda baca dan kosa kata bahasa lisan yang belum memiliki isyarat.
6)      Mendengar
Kemampuan yang masih dimiliki anak tunarungu dalam menangkap dan menghayati bunyi harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Karena itu dalam penerapan komtal diberikan bina persepsi bunyi dan irama, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan berbahasa.
Menurut Widyatmiko S.A (2003: 4) komponen-komponen MMR antara lain :
1.      Gesti/ isyarat dengan atau tanpa ekspresi wajah
2.      Suara/ bunyi yang bermakna
3.      Bunyi/ suara yang merupakan lambang, kata bunyi bahasa
4.      Bicara
5.      Menulis
6.      Gambar
Berdasarkan pendapat disimpulkan bahwa pendekatan dan pembelajaran anak tunarungu harus memperhatikan komponen-kompoenen metode maternal reflektif karena pengajaran akan lebih menarik perhatian anak tunarungu sehingga dapat memotivasi belajarnya. Bahan pengajaran akan lebih membantu anak sehingga dapat membantu anak dalam menguasai materi pelajaran dengan lebih baik.

Daftar pustaka :
1.      Maria Susila Yuwati. 2000. Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu, Jakarta : Yayasan Santi Rama.
2.      Widyatmiko S.A. 2003. Metode Maternal Reflektif. Jawa Tengah. Dinas P dan K Unit PLB.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

blog yang ditampilkan menarik dan isinya menambah ilmu tentang anak tuna rungu, hanya mungkin dirapikan tata letak gambar dengan isi materi agar lebih baik lagi,,terus tingkatkan

Unknown mengatakan...

ok terima kasih hani atas sarannya

Posting Komentar