Metode Maternal
Reflektif
A.
Pengertian
Metode Maternal Reflektif
Reflektif : memantulkan/ meninjau kembali pengalaman bahasa anak
tunarungu
Metode maternal reflektif adalah metode
pengajaran bahasa diangkat dari upaya seorang ibu untuk mengajarkan bahasa pada
anaknya yang belum berbahasa sampai anak dapat menguasai bahasa, yang dilakukan
seorang ibu dengan kemampuannya merefleksikan kemampuan berbahasa.
Secara garis besar MMR adalah :
1) Pengakuan
terhadap hak kaum tunarungu untuk mendapat komtal sepenuhnya dengan sesama
manusia sehingga memperoleh pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia.
2) Pengakuan
terhadap hak kaum tunarungu agar dapat melakukan komunikasi dengan sesama
manusia melalui cara mereka yang khas
3) Mencakup
penggunan berbagai cara komunikasi yang dipilih sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan perorangan
4) Suatu
falsafah mengenai komunikasi dan bukan suatu metode pengajaran
B.
Komponen-komponen
Metode Maternal Reflektif
Menurut Maria Susila Yuwati (2000: 12) komponen metode maternal reflektif
adalah :
1) Wicara
Semua anak tunarungu harus diberi kemungkinan untuk mengembangkan
bicaranya. Dalam penerapan komtal guru/ orang tua sebanyak mungkin
berkomunikasi dengan berbicara kepada anaknya dan diberi latihan bicara secara
intensif.
2) Membaca
ujaran
Kemampuan membaca ujaran harus sedini mungkin dikembangkan pada anak,
antara lain dengan selalu berkomunikasi melalui bicara maupun isyarat secara
simultan.
3) Membaca
dan menulis
Membaca dan menulis memegang peran penting dalam berkomunikasi bagi anak
tunarungu. Sejak kecil anak diberi lambang tulisan, missalnya dalam kombinasi
gambar atau situasi yang dialami.
4) Sistem
isyarat bahasa Indonesia
Sistem isyarat
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi gerakan-gerakan tangan yang disusun
secara sistematis dan berfungsi mewakili bahasa Indonesia, berdasarkan kosa
kata dasar Bahasa Indonesia yang berlaku pada saat ini.
5)
Sistem ejaan jari
Ejaan jari
Indonesia dibentuk dengan tangan atau posisi jari tertentu untuk menggambarkan
huruf-huruf abjad, tanda baca dan kosa kata bahasa lisan yang belum memiliki
isyarat.
6)
Mendengar
Kemampuan yang
masih dimiliki anak tunarungu dalam menangkap dan menghayati bunyi harus
dimanfaatkan seoptimal mungkin. Karena itu dalam penerapan komtal diberikan
bina persepsi bunyi dan irama, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan
berbahasa.
Menurut
Widyatmiko S.A (2003: 4) komponen-komponen MMR antara lain :
1.
Gesti/ isyarat dengan atau tanpa ekspresi wajah
2.
Suara/ bunyi yang bermakna
3.
Bunyi/ suara yang merupakan lambang, kata bunyi
bahasa
4.
Bicara
5.
Menulis
6.
Gambar
Berdasarkan pendapat disimpulkan bahwa pendekatan dan pembelajaran anak
tunarungu harus memperhatikan komponen-kompoenen metode maternal reflektif
karena pengajaran akan lebih menarik perhatian anak tunarungu sehingga dapat
memotivasi belajarnya. Bahan pengajaran akan lebih membantu anak sehingga dapat
membantu anak dalam menguasai materi pelajaran dengan lebih baik.
Daftar pustaka :
1.
Maria Susila Yuwati. 2000. Penguasaan
Bahasa Anak Tunarungu, Jakarta : Yayasan Santi Rama.
2.
Widyatmiko
S.A. 2003. Metode Maternal Reflektif. Jawa Tengah. Dinas P dan K Unit
PLB.




2 komentar:
blog yang ditampilkan menarik dan isinya menambah ilmu tentang anak tuna rungu, hanya mungkin dirapikan tata letak gambar dengan isi materi agar lebih baik lagi,,terus tingkatkan
ok terima kasih hani atas sarannya
Posting Komentar