Sabtu, 09 November 2013

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK TUNARUNGU




Perkembangan Bahasa Bagi Anak Tunarungu

Ketunarunguan yang dialami anak sejak lahir perkembangan bahasanya terhenti pada masa meraban (umur 6 bulan), karena dia tidak bisa merespon bunyi-bunyi yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
Tidak adanya masukan bunyi suara atau masukan yang diterima oleh anak maka alat bicaranya tidak terlatih dan mengakibatkan alat bicaranya menjadi kaku. Akhirnya mereka kesulitan dalam mengungkapkan sesuatu tanpa latihan bicara, karena alat bicaranya tidak terbiasa bergerak spontan melainkan harus mengeja.
Pendidikan anak tunarungu untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi (Permanarian dan Herawati, 2004: 31).
1.      Didiklah anak tunarungu seperti mendidik anak-anak yang mendengar
2.      Libatkan anak tunarungu dalam kegiatan keluarga
3.      Jangan memanjakan anak tunarungu secara berlebihan
4.      Berilah kesempatan bermain seluas mungkin pada anak tunarungu
5.      Anak tunarungu harus diberi contoh perilaku yang baik
6.      Berikanlah kewajiban yang sama kepada anak tunarungu dalam melaksanakan tugas-tugas
7.      Pupuklah rasa cinta terhadap keindahan alam sekitar
8.      Gunakan setiap kesempatan untuk merangsang perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu
Penguasaan bahasa melalui pendengaran (khususnya bagi anak yang tergolong tuli) harus melalui penglihatan atau secara taktik kinestik atau kombinasi dari keduanya. T. Sutjihati Soemantri (1996: 80), mengemukakan bahwa media komunikasi dan penerimaan bahasa yang dapat digunakan bagi anak tunarungu adalah sebagai berikut :
1.      Bagi anak tunarungu yang masih mampu bicara, tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan bagi anak tunarungu.
2.      Menggunakan media tulisan (bacaan) dan membaca sebagai sarana penerimaannya
3.      Menggunakan isyarat sebagai media komunikasi
Perkembangan bahasa bagi anak tunarungu membaca (tulisan) dinilai kurang tepat digunakan dalam fase-fase permulaan perkembangan bahasa karena membutuhkan kematangan tertentu. Penggunaan bahasa isyarat juga kurang tepat karena akan mengakibatkan terasingnya anak tunarungu dalam bermasyarakat. Pandangan orang terhadap isyarat banyak yang negatif, karena dinilai bahwa bahasa isyarat kurang dapat memperagakan pikiran yang abstrak, kurang fleksibel dan kurang berdeferensi (Permanarian Somad dan Tati Herawati, 1996: 140).

Daftar pustaka :
1.      Sutjihati Sumantri.1996. Psikologi Anak Luar Biasa, Jakarta : Depdikbud
2.      Permanarian Somat & Tati Herawati.2004. Ortopedagogik Anak Tunarungu Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Guru

1 komentar:

Chocolate mengatakan...

terimakasih ya yesi ak jadi tau tentang perkembangan anak tuna rungu khususnya di perkembangan bahasa....

Posting Komentar