1. Gangguan
perseptual dimana anak tidak dapat mengidentifikasikan bunyi dari alam sekitar
benda-benda yang menghasilkan suara.
2. Gangguan
bicara sehingga anak tidak dapat mempelajari bagaimana hubungan antara
gerak-gerak mekanisme bicara dengan suara-suara yang dihasilkan. Akibatnya
mereka tidak memperoleh kontrol dari bicaranya.
3. Gangguan
komunikasi dimana anak tidak dapat mempelajari bahasa ibu mereka. Oleh karena
itu, mereka tidak dapat mengekspresikan apa yang mereka pikirkan kepada orang
lain kecuali melalui gerakan-gerakan, atau isyarat-isyarat yang konkret.
4. Gangguan
kognitif. Anak-anak yang tanpa bahasa harus mempelajari dunia mereka hanya
melalui hal-hal yang konkret, disini dan sekarang. Mereka sulit untuk mengerti
apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan, karena kata kebijaksanaan ini terlalu
abstrak.
5. Gangguan
sosial bagi anak yang pendengarannya rusak akan menghadapi kesulitan
perkembangan dalam cara-cara bertingkah laku yang tepat terhadap orang lain.
6. Gangguan
emosi. Mereka sering curiga kepada orang lain karena tidak mendengar apa yang
dibicarakan oleh orang lain.
7. Masalah
kependidikan. Anak yang tanpa bahasa memperoleh manfaat yang minimal dari
pengalaman-pengalaman pendidikan.
8. Gangguan
dalam intelektual yang mengalami hambatan.
9. Masalah
vokasional, kurangnya keterampilan verbal, pengetahuan umum, kemampuan
akademik, dan keterampilan sosial. Dan anak-anak yang rusak pendengarannya,
setelah dewasa akan menghadapi kesempatan yang terbatas dalam mencari
pekerjaan.
Daftar Pustaka:
·
Abdurrachman Muljono. & S. Sudjadi.
(1994). Pendidikn Luar Biasa Umum.
Jakarta: B3PTKSM.




1 komentar:
blognya bagus+menarik,, materinya sangat bermanfaat,, q suka.. :)
Posting Komentar